Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Kota Pekalongan Gelar Ngabuburit Pengawasan ke-11, Angkat Strategi Pengawasan Berbasis Digital

ngabuburit

MSH.Habib (Humas Bawaslu Kota Pekalongan)

Pekalongan, 11 Maret 2026 — Bawaslu Kota Pekalongan kembali melaksanakan program Ngabuburit Pengawasan ke-11 dengan mengusung tema “Strategi Pengawasan Berbasis Digital.” Kegiatan ini dikemas dalam format video edukatif berdurasi 13 menit yang diunggah melalui kanal YouTube resmi Bawaslu Kota Pekalongan.

Dalam pembukaan, MSH. Habib (Humas Bawaslu Kota Pekalongan) menyampaikan materi bertajuk “Evolusi Orang Pintar di Era Teknologi.” Narasi tersebut diadaptasi dari pemaparan seorang education influencer, Lyqa Maravilla, dalam sesi penutup 11th ADB International Education and Skills Forum di Manila. Materi ini menyoroti bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan terus mengalami transformasi seiring perkembangan teknologi.

MSH. Habib menjelaskan bahwa pada Era Print, sumber pengetahuan masih terbatas pada buku dan media cetak, sehingga kecerdasan diukur dari kemampuan menghafal. Memasuki Era Search, kehadiran internet dan mesin pencari menggeser paradigma tersebut—kecerdasan lebih ditentukan oleh kemampuan mencari dan memilah informasi secara kritis.

Selanjutnya, pada Era Algorithm, informasi hadir secara otomatis melalui platform digital seperti media sosial. Tantangan utama di era ini adalah menjaga objektivitas, karena algoritma cenderung menyajikan konten sesuai preferensi pengguna.

Saat ini, dunia telah memasuki Era Generative AI, di mana teknologi tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga mampu menyusun jawaban. Dalam kondisi ini, kemampuan bertanya secara tepat dan berpikir kritis menjadi indikator kecerdasan baru. Ke depan, manusia diproyeksikan akan menghadapi Era Agentic AI, di mana kecerdasan buatan dapat menjalankan tugas secara mandiri, sehingga peran manusia bergeser menjadi pengarah sekaligus penentu nilai dan etika.

Meski teknologi terus berkembang, MSH. Habib menekankan pentingnya keterampilan deep reading atau membaca secara mendalam. Menurutnya, kemampuan ini tetap relevan untuk membangun nalar kritis, memperkaya wawasan, serta menumbuhkan kebijaksanaan—hal-hal yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi.

Pada bagian penutup, MSH. Habib mengimbau masyarakat Kota Pekalongan untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Ia menekankan pentingnya melakukan verifikasi atau cek fakta sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi, dengan memanfaatkan platform seperti MAFINDO, CekFakta, serta berbagai aplikasi anti-hoaks lainnya.

Melalui program Ngabuburit Pengawasan ini, Bawaslu Kota Pekalongan berharap dapat meningkatkan literasi digital masyarakat sekaligus memperkuat partisipasi publik dalam pengawasan demokrasi di era teknologi yang semakin kompleks.

Penulis : Habib