Lompat ke isi utama

Berita

Festival Literasi Kepemiluan Bawaslu Kota Pekalongan, Memadukan Buku, Budaya, Kreativitas Digital, dan Dialog Demokrasi

festival

Suasana riang gembira dalam kegiatan Festival Literasi Kepemiluan di halaman kantor Bawaslu Kota Pekalongan

Pekalongan, 18 Mei 2026 – Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei, Bawaslu Kota Pekalongan menghadirkan sebuah konsep edukasi demokrasi yang berbeda melalui Festival Literasi Kepemiluan. Kegiatan yang berlangsung pada Senin sore (18/05/2026) di halaman Kantor Bawaslu Kota Pekalongan, Jalan Pembangunan No. 5 Kota Pekalongan tersebut sukses menyatukan semangat literasi, kebudayaan, kreativitas digital, dan pendidikan demokrasi dalam satu rangkaian kegiatan.

festival
Tim SAKA Millenial

Festival ini diikuti oleh seluruh unsur Satuan Karya Pramuka (SAKA) se-Kota Pekalongan sebagai peserta utama. Kehadiran para generasi muda tersebut menjadi bagian dari upaya Bawaslu Kota Pekalongan untuk memperluas pendidikan kepemiluan melalui pendekatan yang lebih kreatif, partisipatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari kaum muda.

Ketua Bawaslu Kota Pekalongan menyampaikan bahwa literasi kepemiluan tidak cukup hanya diwujudkan melalui membaca regulasi atau memahami tahapan pemilu. Literasi demokrasi juga harus dibangun melalui pengalaman, kreativitas, dialog, serta pelestarian nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi demokrasi Indonesia.

festival
Pameran Buku Pengawas Pemilu

Festival Literasi Kepemiluan dikemas dalam empat agenda utama yang saling melengkapi.

Agenda pertama adalah "Pameran Buku Pengawas Pemilu". Dalam pameran ini, Bawaslu Kota Pekalongan menampilkan berbagai buku hasil karya Bawaslu Kabupaten dan Kota se-Jawa Tengah, termasuk sejumlah publikasi yang diterbitkan oleh Bawaslu Kota Pekalongan sendiri. Beragam buku tersebut mengangkat tema pengawasan pemilu, demokrasi, hukum pemilu, hingga praktik-praktik baik dalam penyelenggaraan pengawasan. Pameran ini menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal lebih dekat perjalanan, pemikiran, serta inovasi yang telah dilakukan Bawaslu dalam membangun demokrasi yang berintegritas melalui budaya literasi.

festival
Bawaslu Cultural Singing Fest

Agenda kedua bertajuk "Bawaslu Cultural Singing Fest", sebuah festival menyanyikan lagu-lagu daerah secara bergantian maupun bersama-sama. Suasana sore menjadi semakin hangat ketika peserta membawakan berbagai lagu daerah seperti Rasa Sayange, Yamko Rambe Yamko, Ampar-Ampar Pisang, Gundul-Gundul Pacul, Nona Manis, serta sejumlah lagu daerah lainnya dari berbagai penjuru Nusantara.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kota Pekalongan ingin menanamkan kembali semangat kebhinekaan kepada generasi muda. Lagu-lagu daerah dipilih sebagai media sederhana namun efektif untuk mengingatkan bahwa demokrasi Indonesia tumbuh di atas keberagaman budaya, suku, bahasa, dan tradisi yang harus terus dijaga bersama.

festival
Democracy Vlog Festival

Tidak hanya mengedepankan budaya dan literasi, festival ini juga mengajak peserta untuk aktif berkarya di ruang digital melalui "Democracy Vlog Festival". Seluruh peserta ditantang membuat video vlog secara spontan selama kegiatan berlangsung. Video tersebut mengangkat berbagai sudut pandang mengenai demokrasi, semangat pengawasan partisipatif, serta pengalaman mengikuti Festival Literasi Kepemiluan.

Seluruh karya kemudian dikirimkan kepada panitia untuk diseleksi dan akan dipublikasikan melalui berbagai platform media sosial Bawaslu Kota Pekalongan. Melalui kompetisi ini, Bawaslu berharap generasi muda mampu menjadi netizen yang positif, memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi publik, sekaligus turut menyebarluaskan semangat Pengawasan Partisipatif kepada masyarakat yang lebih luas.

festival
NGOPI (Ngobrol Pintar) Bareng Bawaslu

Sebagai penutup rangkaian acara, Bawaslu Kota Pekalongan menghadirkan sesi Podcast "NGOPI (Ngobrol Pintar) Bareng Bawaslu". Podcast yang dipandu secara langsung oleh Ketua dan Anggota Bawaslu Kota Pekalongan tersebut menghadirkan dialog santai namun berbobot mengenai pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengawal demokrasi, tantangan pengawasan pemilu di era digital, serta peran strategis generasi muda sebagai pelopor demokrasi yang berintegritas.

Berbeda dengan forum diskusi formal, podcast ini memberikan ruang interaksi yang lebih cair sehingga peserta dapat menyampaikan pertanyaan, pandangan, maupun gagasannya secara terbuka. Suasana tersebut menciptakan komunikasi dua arah yang memperkuat kedekatan antara Bawaslu dengan masyarakat, khususnya kalangan muda.

Sejak dibuka hingga berakhir menjelang malam, Festival Literasi Kepemiluan berlangsung dengan penuh antusiasme. Peserta tidak hanya menikmati seluruh rangkaian kegiatan, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam setiap sesi. Perpaduan antara literasi, seni budaya, teknologi digital, dan dialog demokrasi menjadikan kegiatan ini terasa hidup, edukatif, sekaligus menghibur.

Festival Literasi Kepemiluan yang digagas Bawaslu Kota Pekalongan menjadi sebuah inovasi dalam penyelenggaraan pendidikan demokrasi. Konsep yang menggabungkan pameran literasi, pelestarian budaya, kompetisi konten digital, dan podcast edukatif dalam satu kegiatan dinilai sebagai pendekatan baru yang belum banyak dilakukan di lingkungan Bawaslu di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kota Pekalongan berharap semangat literasi kepemiluan tidak berhenti pada momentum Hari Buku Nasional semata, tetapi dapat terus tumbuh menjadi budaya masyarakat dalam memahami demokrasi, mengawasi setiap proses pemilu secara partisipatif, serta bersama-sama menjaga kualitas demokrasi Indonesia. Festival ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi Bawaslu Kabupaten/Kota lainnya dalam menghadirkan inovasi pendidikan kepemiluan yang kreatif, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Penulis : Msh.Habib

Foto      : Sabar Narimo